Skip to content

SEKOLAH TEMPAT MENEMUKAN HIDUP BAGI SISWA: CITA-CITA

04/12/2010

Permenungan ini terpicu oleh kejadian di hari Sabtu, 9 April 2010. Seorang siswi menangis tersedu-sedu sambil mengungkapkan kekesalannya terhadap seorang guru. Dia tidak bisa menerima perlakuan di marahi di depan anak-anak yang lain. Merasa sakit hati karena di katakan bodoh di depan anak-anak. Anak ini sampai pada kesimpulannya bahwa dirinya diperlakukan tidak adil. Dan merasa tidak perlu sekolah lagi kalau disekolah yang dialami dan ditemukan adalah dirinya yang disalahkan dan dianggap bodoh. Untuk apa ke sekolah kalau akhirnya hanya ditunjukkan kebodohannya dan kejelekannya. Kejadian lain berupa suasana saling mengejek antar anak-anak sehingga melemahkan semangat anak-anak untuk menjadi yang terbaik di kelasnya. Inilah penderitaan anak-anak kita dengan institusi yang bernama sekolah.

Kejadian ini merangsang pertanyaan saya sebagai pemula dalam bergelut di bidang pendidikan. Apa makna sekolah dengan segala relasi yang terjadi (guru-guru, guru-murid, murid-murid) dalam diri para siswa? Apa yang cari siswa ketika ia memasuki sekolah? Dapatkah sekolah menjembatani kerinduan anak-anak dalam memenuhi kebutuhan perkembangan dan pertumbuhan anak? Apakah sekolah dapat menjadi tempat yang aman bagi anak-anak untuk berkembang secara emosional dan personal? Bagaimana peranan Guru dan Karyawan dalam mendukung perkembangan anak tersebut?

Berangkat dari pertanyaan dan kejadian di atas saya berpendapat bahwa sekolah sebagai tempat berkembangnya anak-anak muda harus menciptakan suasana yang ramah dan terbuka terhadap anak-anak dengan berbagai macam latar belakang dan kemampuannya. Sekolah harus menyediakan layanan sesuai dengan kebutuhan anak-anak.

Namun demikian, sebagian besar sekolah-sekolah saat ini masih menerapkan one fits for all. Perbedaan anak-anak kurang mendapatkan perhatian yang cukup dalam kehidupan sekolah secara keseluruhan. Sebagai penyelenggara sekolah harus memikirkan layanan yang sungguh-sungguh sesuai dengan perkembangan anak-anak.

Melihat peristiwa di atas, seorang anak dimarahi di depan kelas, mungkin bagi sementara anak yang lain tidak menjadi masalah. Namun bagi anak ini dirasakan sebagai penghancuran terhadap dirinya di hadapan orang lain. Penting kiranya menunjukkan suatu kesalahan pada diri anak, yang sebaiknya dilakukan dengan pertemuan empat mata sehingga pembicaraan secara personal dapat terjadi. Pertemuan pribadi akan mendorong komunikasi yang terbuka dan saling memahami satu dengan yang lain. Dengan demikian anak semakin dapat menemukan dirinya bahwa dirinya memang layak untuk ditunjukkan kesalahannya.
Sekolah sebagai tempat anak-anak muda mengembangkan dan menemukan diri harus memberi model penemuan diri yang positif bukan sebaliknya menghancurkan kepribadian siswa melalui berbagai sistem dan aturan yang berlaku di sekolah. Bagaimana caranya? Inilah PR panjang kita sebagai pendidik di sekolah.

Advertisements
One Comment leave one →
  1. 04/14/2010 5:37 am

    Memang Bro. marah itu perlu namun akan bermakna positif jika pada waktu yang tepat, porsi yang tepat, kepada orang yang tepat, di waktu yang tepat. saya ikut prihatin dengan cerita di atas.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: