Skip to content

KEJUJURAN MENJADI KAMBING HITAM KEGAGALAN UN

04/28/2010

Kompas, 25 April 2010 melansir sebuah berita Kelulusan UN 76,3 % di Yogyakarta. Panitia UN mencurigai hasi buruk tersebut karena Kejujuran. Kejujuran ditengarai sebagai penyebab menurunnya tingkat keberhasilan siswa dalam UN. Apa yang dapat kita katakan dengan pernyataan ini sebagai pendidik?

Beberapa waktu yang lalu dunia pendidikan di lukai dengan berita Plagiarisme yang dilakukan seorang Doktor dari salah satu Perguruan tinggi. (Kompas 19/2/2010). Tindakan plagiat merupakan tindakan ketidakjujuran akademis. Sebagai akibatnya karena tindakan tersebut membawa kehancuran karier orang tersebut. Dalam hal ini logika kita masih dapat melihat bahwa ketidakjujuran membawa kehancuran.

Dalam hal UN muncul pemikiran bahwa dengan kejujuran meningkat maka kegagalan meningkat. Mereka yang telah berjuang dengan jujur dan kerja keras baik para pendidik dan anak-anak malahan menemui kehancurannya, tidak lolos dalam UN. Dalam hal ini terjadi logika berkebalikan dengan peristiwa plagiat yaitu bahwa Jujur berarti hancur! Atau kebalikannya, jika mau berhasil bertindaklah tidak jujur. Apakah ini yang mau diungkapkan dengan kejadian-kejadian Ujian Nasional di Negeri ini? Ataukah kenyataan seperti itu yang mendasari pelaksanaan UN di Indonesia ini? Inilah keprihatinan mendalam kita tentang pendidikan yang kita alami di negeri ini!

Tulisan saudara F. Wawan Setyadi seorang pendidik di SMA Debrito Yogyakarta dalam Kompas 28 April 2010 patut menjadi renungan mendalam bagi kita semua yang mengambil pilihan menjadi pendidik saat ini. Beliau mengatakan bahwa kecurigaan panitia UN yang melihat kegagalan UN di Yogyakarta akibat Kejujuran telah melukai makna pokok pendidikan. Beliau meringkas pendapat Driyarkara, seorang filsuf pendidikan Indonesia, bahwa pendidikan memuat dua unsur penting hominisasai dan humanisasi. Pendidikan mengantar seseorang menjadi seorang manusia yang manusiawi; seorang manusia yang berkebudayaan tinggi. Ia bukan manusia yang hanya bisa melakukan tindakan-tindakan minimal yang khas manusia, seperti berjalan dengan dua kaki dan makan dengan tangan. Ia adalah juga manusia yang memiliki tatanan nilai moral yang baik. Ia adalah seorang yang utuh. Pendidikan adalah seluruh proses membawa manusia ke titik kemanusiaan yang tertinggi itu.

Maka pendidikan yang mengutamakan hasil akhir dan mengabaikan proses sebenarnya bukanlah pendidikan yang sebenarnya. Pendidikan tidak hanya puas dengan menjadikan siswanya pintar kognitif, memiliki angka rata-rata yang tinggi. Ia juga harus cermat, teliti dan tekun mengajarkan cara mencapai hasil tersebut secara bermartabat, sesuai dengan nilai-nilai hakiki sebagai manusia. Oleh karena itu seperti di tekankan saudara F. Wawan Setyadi, sangatlah ironis ketika ada asumsi proses yang baik adalah biang kegagalan sebuah hasi yang baik.

Perlu kita renungkan adanya ketidak konsistenan dalam peristiwa Ujian Nasional tahun 2010 ini. Pertama, UN masuk dalam Pendidikan, maka dalam segala hal harus sesuai dan konsisten dengan dunia pendidikan. UN tidak boleh menyebabkan ketidakkonsistenan berpikir dan bertindak dalam dunia pendidikan.

Bagi para pendidik, pelajar, masyarakat yang tengah berkabung menyaksikan kenancuran dan kematian nilai kejujuran, satu hal ini perlu di renungkan terus menerus. Ada dua macam nilai yaitu nilai yang sifatnya instrumental dan nilai hakiki. Nilai hakiki adalah nilai yang pada dirinya sendiri berharga dan wajib dilaksanakan dalam kondisi apapun. Kejujuran bersama dengan nilai kemanusiaan yang lain adalah nilai hakiki. Maka nilai kejujuran tidak boleh dikorbankan demi sebuah nilai (angka) UN yang tinggi. Hanya dengan cara demikian kita semua dapat berjalan dan berkembang menjadi seorang manusia yang utuh dan bermartabat. Semoga Pendidikan kita tetap setia kepada nilai-nilai universal kemanusiaan ini.

Terima kasih untuk saudara F. Wawan Setyadi atas inspriasi renungan ini yang telah dimuat dalam Harian Kompas, 28 April 2010.

Advertisements
No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: