Skip to content

MENDIDIK DI TENGAH KEDANGKALAN HIDUP

09/02/2010

Judul tulisan ini saya dapatkan ketika saya dalam perjalanan dari Klaten ke Semarang pada tanggal 31 Agustus 2010 yang lalu. Sebuah SMK Kristen di Klaten memampangkan spanduk yang tulisannya kira-kira seperti tertulis di atas. Saya tidak menaruh perhatian yang serius terhadap tulisan tersebut. Namun ternyata ingatan akan tulisan itu selalu mengusik hati sampai hari saya tulis artikel ini. Beberapa pertanyaan muncul dalam benak saya. Kesadaran apa yang sedang dibangun di sekolah tersebut berkaitan dengan proses pendidikannya? Apa yang sedang terjadi saat ini sehingga hidup menjadi dangkal termasuk proses pendidikan kita? Esensi apa sebenarnya yang ingin di capai dalam proses pendidikan di sekolah tersebut? Beberapa pertanyaan ini memang sebaiknya di tanyakan kepada sekolah yang memasang spanduk tersebut supaya jelas apa yang dimaksud.

Sekedar meraba-raba maksud dari spanduk tersebut, saya merefleksikan situasi hidup kita sekarang ini. Perkembangan ilmu, teknologi dan komunikasi telah membawa perubahan yang luar biasa dalam kehidupan kita. Cara kita belajar, cara mendapatkan kebutuhan, cara berkomunikasi dengan orang lain telah berubah drastis jika dibandingkan sekian puluh tahun yang lalu ketika saya masih remaja. Pada saat ini situasi hidup yang instan dan pragmatis sangat mendominasi cara kita bertindak. Segala sesuatu dapat dicapai dengan cepat saji dan tidak sabar dengan proses yang panjang. Masalah yang muncul dalam kehidupan sehari-hari kurang mendapatkan tempat untuk direfleksikan dan dicarikan pemecahannya secara baik. Orang cenderung menghindari kontak dengan dirinya sendiri dan cepat melarikan diri kepada hal-hal menarik yang ditawarkan di luar dirinya. Usaha-usaha yang meminta kerja keras dihindari dengan mencari jalan pintas di sana sini untuk memecahkan masalah, sehingga akar masalah itu sendiri tidak tersentuh.

Gejala-gejala ini nampak jelas dalam kejadian-kejadian yang kita alami di lembaga pendidikan juga. Sebagai contoh, adalah Ujian nasional. Segala hal dikerahkan untuk mensukseskan Ujian Nasional yang hasilnya tidak berguna selain hanya untuk mendapatkan sekolah lanjutan di atasnya. Setelah itu proses di sekolah di atasnya tidak menggunakan hasil untuk kegiatan berikutnya. Semua sumber dana dan daya difokuskan pada Ujian Nasional. Drill diberikan tanpa henti, tutuor di lipatgandakan. Semua mengarah kepada hasil akhir tanpa memperhatikan proses pembelajaran yang baik di dalam kelas. Parahnya lagi ada sekolah yang menyerah kepada Lembaga Bimbingan Belajar yang getol masuk dalam sekolah. Proses pendidikan dan proses belajar mengajar di reduksi menjadi proses memperoleh nilai dengan cara instan dan cepat. Di manakah nilai-nilai kemanusiaan (bela rasa, kerjasama yang positif, kejujuran, kerja keras) dikembangkan selama proses ini? Di manakah nilai berpikir kritis dikembangkan kalau semua materi diberikan sebagai sebuah menu yang siap di makan sehingga tidak ada proses mencari dan menyusun sendiri.

Gejala pendangkalan hidup yang lain muncul dalam kenyataan bahwa sekarang ini segala sesuatu sudah tersedia, sehingga tinggal klik kita dapatkan apa yang kita butuhkan. Kekuatan Mbah Google telah melemahkan kemampuan untuk mencari dan mengkonstruksi jawaban sendiri atas persoalan yang dihadapi. Teknologi ini telah banyak membantu kita tetapi pada saat yang sama telah mengancam kemampuan kita untuk berinteraksi sosial dengan orang-orang disekitar kita. Kontak fisik dengan sesama kita menjadi berkurang. Sekaligus juga bisa mengurangi kepekaan kita akan sensitifitas terhadap karya orang lain. Kita dengan mudah mengcopy-paste rumusan orang lain dan menganggapnya sebagai karya sendiri. Kepekaan akademik luntur karena kebiasaan plagiat yang dilakukan dengan cara-cara yang paling sederhana (mengcopy makalah orang lain dan menjadikan milik sendiri) sampai dengan hal yang besar, memplagiat karya tulis orang lain demi gelar yang diimpikannya.

Kegelisahan akan pendangkalan hidup juga dapat kita baca dengan niat pemerintah menggalakkan pendidikan Karakter di sekolah. Sebuah kesadaran yang menurut saya sudah terlambat karena situasi hidup dalam keluarga, masyarakat dan lingkungan dunia sudah berubah pesat. Pendidikan karakter akan berhasil jika tersedia lingkungan yang kondusif dan tersedianya model bagi anak-anak yaitu orang tua, guru dan masyarakat. Bagaimana anak-anak kita belajar dan mengembangkan karakter hidup yang baik (kejujuran, kerja keras, saling menghormati dll) kalau dalam keluarga sudah melihat Bapak-Ibu saling berbohong, bentrok antar orang tua, dan saling menjatuhkan anggota keluarganya. Bagaimana mau belajar menjadi orang jujur kalau dalam sekolah dan masyarakat yang dilihat adalah kebohongan, ketidakjujuran, korupsi. Inilah situasi yang sekarang ini menyebabkan kedangkalan hidup masyarakat kita.

Inilah tantang dunia pendidikan kita sekarang ini. Pendidikan yang kita maksudkan sebagai tempat generasi muda memanusiakan diri dan menemukan jati dirinya mendapatkan tantangan luar biasa berupa pendangkalan hidup kita. Namun demikian, upaya untuk terus menerus melaksanakan pendidikan yang semakin humanis harus kita lakukan supaya anak-anak muda kita dapat sampai pada kedalaman hidupnya, menemukan makna hidup dan panggilannya yang mendalam di sekolah-sekolah kita. Sekolah bukan saja mencari nilai atau IP yang tinggi melainkan juga mengembangkan secara imbang segi-segi kepribadian dan rohaninya.

Pertanyaannya adalah bagaimana hal itu dilakukan. Pertama-tama adalah menciptakan lingkungan sekolah yang subur akan nilai-nilai kemanusiaan (kerjasama, saling hormat, mencintai, kejujuran, kedisiplinan). Hal ini harus dimiliki oleh seluruh orang dewasa yang terlibat di sekolah( guru, karyawan, petugas pelaksana, petugas kantin dll) sebagai model penghayatan nilai-nilai karakter yang mau dikembangkan dalam diri anak-anak. Tanpa ini sekolah tak bisa menyelenggarakan pendidikan yang mendalam. Kedua, ada upaya pembiasaan terhadap nilai-nilai tersebut dalam diri anak-anak. Nilai kejujuran, disiplin, kerja sama positif harus diterapkan melalui kegiatan-kegiatan di sekolah. Ketiga adalah mengembangkan kebiasaan refleksi di lingkungan sekolah. Refleksi dan evaluasi bersama akan membantu mengerti makna yang lebih mendalam mengenai hidup yang sedang dijalanninya. Refleksi menghindarkan orang untuk selalu mencari apa yang ada di luar dirinya.

Semoga sekolah-sekolah kita mampu melaksanakan pendidikan yang mendorong anak-anak muda kita bertolak ke tempat yang lebih dalam, yaitu jati dirinya dan tujuan hidupnya sebagai makluk ciptaan Allah yang maha kasih.

Semarang, 2010

Advertisements
One Comment leave one →
  1. Maryata permalink
    09/03/2010 3:43 am

    Zaman berubah adalah hal yang tak terhindarkan. Kewajiban para pendidik (formal+informal) membimbing insan muda untuk tidak hanya ‘ngeli’ ikut arus perubahan tapi harus bisa men ‘drive’ arus itu. PR yang tak habis. Maksudnya saya yang mencetak, Bruder yang mendidik. Pokoknya kita sinergikan daya dan peran-tugas masing-masing.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: