Skip to content

Perjalanan menjadi seorang guru

10/31/2013

Perjalanan panggilan sebagai seorang guru Pangudi Luhur merupakan sebuah proses yang bertahap. Pencapaian pemahaman akan panggilanku sebagai seorang guru dan pendidik memerlukan waktu yang panjang. Bagiku menjadi seorang guru dan pendidik berarti menjadi seorang teman seperjalanan anak-anak dalam memahami hidup dan pengalamannya. Siap menyediakan diri untuk menerima dan memahami kebutuhan anak-anak dalam menemukan jati dirinya.

Melihat kembali pengalamanku sebagai seorang guru Pangudi Luhur pemahaman ini berproses secara perlahan. Mulai dengan penugasanku yang pertama di SD Pangudi Luhur Jakarta pada tahun 1992, sebagai seorang Bruder Muda aku mengajar anak anak kelas IV. Penugasan yang berjalan selama satu tahun belum mampu membuatku sadar akan apa sebenarnya yang menggerakkan aku untuk mengajar. Penyesuaian medan kelas dan penguasaan bahan pelajaran menyita waktu yang ada sehingga tak ada waktu untuk merefleksikannya. Waktu satu tahun berlalu begitu cepat sampai akhirnya aku menerima tugas studi di Sanata Dharma.

Perjalanan panggilanku sebagai guru aku lanjutkan pada tahun 1998 ketika aku menerima tugas sebagai guru di SMA Pangudi Luhur Jakarta. Pada kesempatan ini aku mengalami tantangan yang besar dalam penguasaan kelas dan medan pelajaran. Penyesuaian diri dan penguasaan kelas dan materi menjadi hal yang penting dan menyita seluruh waktuku, sehingga refleksi mengenai makna dan pengertianku akan panggilanku sebagai guru belum sepenuhnya aku dapatkan. Bahkan sulitnya menguasai medan dan penguasaan materi sempat melemahkan motivasiku sebagai guru. Ketidak mampuan mengatasi tantangan kesulitan siswa dan penyesuaian dengan materi ajar membuat diriku merasa kurang kompeten dan menurunkan rasa percaya diri dalam mengajar di depan kelas. Bimbingan yang minimal dari Kepala sekolah juga membuatku semakin beratmdalam menanggung kesulitan. Tugas ini berakhir dengan kepindahanku ke Muntilan. Aku belum menemukan makna sebagai seorang guru.

Penugasan di Muntilan memberikan tantangan dan warna baru dalam kehidupanku sebagai pendidik. Aku kembali ke tempat di mana aku dipersiapkan menjadi seorang guru pada masa remajaku. Di sini aku pernah tinggal selamam3 tahun untuk menempuh pendidikan Guru sekolah dasar. Di tempat ini aku mengalami benih benih panggilanku sebagai guru mulai disemai. Sekarang dalam penugasanku sebagai Pamong Asrama dan guru di SMA  benih benihnitu makin bertumbuh seiring dengan kesadarankunyang semakin berkembang tentang maknandan arti panggilanku sebagai seorang guru.

Melalui tugasku memberikan pendampingan kepada anak-anak remaja selama enam tahun, aku mempunyai cukup waktu untuk semakin merenungkan dan menyadari makna panggilanku. Hidup bersama sama dengan kaum muda, aku dipertemukan dengan berbagai macam karakter pribadi dan berbagai macam pengalaman unik dari setiap pribadi. Banyak kali aku alami bahwa pengalaman mereka juga merupakan pengalamanku sendiri yang belum selesai dan masih berkembang terus menerus. Disini aku belajar dari mereka pergulatan hidup yang tiada henti, pergulatan hidup yang memerlukan penerimaan diri dan pengakuan akan kekuatan dan kelemahan setiap pribadi. Aku berjumpa dengan anak anak muda yang unik  dan beragam sehingga aku dituntut mau tidak  mau menyesuaikan diri dengan irama hidup dan gaya hidup mereka agar bisa menyelami kehidupan para anak anak muda itu. Dengan demikian anak anak muda ini mendapatkan perhatian dan pendampingan yang sesuai dengan kebutuhan mereka. Hal ini menjadi tantangan yang besar karena setiap pribadi memiliki dinamikanya sendiri sendiri.

 

Aku masih ingat dengan seorang anak bernama Joni, seorang siswa yang berasal dari desa. Anak ini begitu sederhana tetapi memiliki motivasi yang besar. Berjumpa dengan teman temannya yang lain ia merasa minder karena pengalamannya. Ia merasa kurang mampu dalam ketrampilan tertentu. Aku mendengarkan pengalaman ini ketika wawancara pribadi. Syukurlah bahwa aku menemukannya sehingga bantuan bisa diberikan. Aku dapat berbagi pengalaman dan perasaan yang sama dan bagaimana aku berusaha menyelesaikannya. Dorongan pribadi bisa diberikan kepadanya sehingga ia dapat berhasil menyelesaikan belajarnya dengan baik.

 Dari pengalaman ini aku belajar bagaimana menjadi teman seperjalanan bagi anak anak remaja dalam menemukan dirinya. Sebagai teman seperjalanan mereka aku menyediakan diri sepenuhnya, membantu mereka dengan segala kemampuan yang ada. Kadang-kadang aku kehabisan akal berhadapan dengan banyak kebutuhan anak-anak. Kadang kala hatus aku sadari bahwa aku tak juga memahami kebutuhan mereka sehingga mereka tak merasakan pendampingan tersebut. Dalam keadaan seperti ini cara cara yang cocok perlu diusahakan. Suatu saat aku menggunakan sarana kuburan sebagai sarana untuk mengajak anak anak untuk menyadari hidup yang diberikan oleh Tuhan. Bangun tidur pagi hari yang masih remang remang aku mengajak para siswa untuk berdoa dan merenungkan tujuan hidup dibantu dengan perjumpaan dengan orang orang yang sudah meninggal di kuburan. Aku hanya mengajak mereka bertanya pada diri sendiri apa tujuan hidupku hari ini, selagi Tuhan masih memberikan anugerah hidup ini? Aku terkesan dengan begitu banyak reaksi positif renungan mereka, ada beberapa anak menggunakan peristiwa ini menjadi titip tolak kebangkitannya.

 Bagiku, menjadi seorang guru dan pendidik, sangat penting memiliki sikap dasar untuk mau menyediakan diri menjadi teman seperjalanan para siswa. Dalam sikap dasar ini aku membuka diri terhadap segala hal yang terjadi dalam diri siswa dan menyediakan diri untuk membantu dimana bantuan itu dibutuhkan. Kebutuhan siswa secara akademik maupun kebutuhan psikologis untuk diperhatikan dan ditemani dapat aku pahami dan aku perhatikan karena aku selalu memiliki keterbukaan dan perhatian kepada mereka. Empati yang aku berikan kepada siswa yang sedang membutuhkan penguatan dapat membangkitkan kembali kekuatan yang meredup karena tertutup oleh permasalahan yang sedang di alami. Inilah beberapa hal yang aku sadari sebagai hal mendasar sebagai guru yang siap melayani anak anak.

 Pengalamanku menjadi seorang guru yang siap melayani kebutuhan anak-anak memang membutuhkan komitment yang besar dan butuh pengorbanan yang besar sebagai seorang guru. Komitment terhadap pemenuhan kebutuhan siswa sangat besar pengaruhnya terhadap keberhasilan para siswa. Para siswa yang semakin hari semakin memiliki kebutuhan dan pengalaman yang sangat kompleks sunnnguh membutuhkan komitment guru untuk memberikan segala kemampuan dan sumber dayanya untuk keberhasilan siswa-siswa tersebut. Komitment seorang guru sangat berkaitan dengan keberhasilan akademik siswa yang diajarnya.

Komitmen seorang guru juga nampak dalam perhatiannya terhadap perkembangan profesional pribadinya. Ia selalu menyediakan waktunya untuk mengembangkan diri lewat membaca dan mengikuti seminar seminar yang berkaitan dengan pengembangan sikap profesionalnya. Guru tak henti-hentinya belajar pengetahuan baru dan penguasaan ketrampilan-ketrampilan baru demi memuaskan kebutuhan siswanya. Aku mengalami hal ini sebagai sesuatu yang tak begitu mudah untuk memelihara sikapmterus mau belajar, karena kecenderungan untuk merasa mapan dengan apa yang sudah ada dalam diriku. Akunterus berupaya untuk mengobarkan semangat supaya aku tetap mau belajar hal hal yang baru.

Advertisements
No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: